Latar Belakang & Kronologi Sejarah
Pada tahun 1995, Bwee Seng dan Lanny Guito melangsungkan pemberkatan nikah suci di Klenteng Boen Bio Surabaya secara sah menurut ajaran agama Khonghucu. Namun, Kantor Catatan Sipil Kota Surabaya menolak mencatat akta pernikahan mereka karena dalih diskriminatif Orde Baru. Didampingi kuasa hukum dan rohaniwan MATAKIN, pasangan ini mengajukan gugatan ke PTUN Surabaya. Keberanian luar biasa ini membongkar ketidakadilan rezim dan didukung luas oleh Gus Dur, LBH, serta para cendekiawan lintas agama.
Gugatan ini bergulir hingga Mahkamah Agung dan menjadi yurisprudensi bersejarah yang membuka jalan bagi pengakuan hak-hak sipil umat beragama minoritas.
Signifikansi Spiritual & Dampak Global
Simbol puncak keberanian warga negara biasa yang bersenjatakan hukum dan kesucian moral demi mempertahankan hakikat suci ikatan perkawinan menurut ajaran Nabi Kongzi.